Peran Penting dan Tugas Mulia Polri Dalam Pengamanan Pesta Demokrasi 2024

Berita Umum, POLRI187 Dilihat

Bhayangkaraglobalnews.com – “ Kamtibmas yang kondusif menjadi prasyarat penting dalam setiap penyelenggaraan program Pemerintah agar berjalan dengan lancar, tertib, aman dan damai. Terlebih jelang pemilu dan pilkada serentak tahun 2024 yang tinggal beberapa bulan lagi. Pesta demokrasi ini bukan sekedar kontestasi politik semata, melainkan menjadi landasan fundamental terkait eksistensi dan kesinambungan pemerintahan yang legitimate. Di sisi lain, jika kita cermati secara seksama ada masalah fundamental kebangsaan yang saat ini sangat riskan, yaitu minimnya ikatan batin (chemistry) kebangsaan atau KOHESI SOSIAL antar sesama anak bangsa, sehingga intoleransi dalam memandang keragaman sangat rentan menjadi permusuhan bahkan bisa berbuah menjadi perpecahan. Hal ini tentu sangat tidak diharapkan oleh siapapun. Oleh karena itu, dalam konteks ini Polri mengemban tugas yang berat dan sekaligus mulia, yaitu menjaga persaudaraan dan persatuan bangsa “, tutur Pemerhati Kepolisian Dede Farhan Aulawi di Sespim Lembang, Kamis (7/9).

Hal tersebut ia sampaikan saat dirinya menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Kebangsaan dengan Tema ‘Strategi Peningkatan Kohesi Sosial, Kembangkan Toleransi Politik Jelang Pemilu 2024’. Kegiatan dilaksanakan di Aula Gd. Utaryo Suryawinata dan diikuti oleh seluruh peserta didik SESPIMTI, SESPIMEN, dan SESPIMA. Menurutnya, muara permasalahan saat ini karena minimnya LITERASI dan Lemahnya KARAKTER kebangsaan sehingga berakibat pada lemahnya TOLERANSI dalam kehidupan POLITIK, ketika satu sama lain memiliki perbedaan pandangan dan pilihan politik. Padahal adanya perbedaan pilihan politik dalam suatu kontestasi merupakan konsekuensi logis atas banyaknya pilihan yang dibenarkan oleh konstitusi. Tinggal menata mindset atau pola fikir dalam mensikapi perbedaan pilihan tersebut. Lawan politik sesungguhnya merupakan mitra dalam berdemokrasi. Lawan politik bukanlah musuh yang harus dihabisi, melainkan kawan seiring dalam menguatkan komitmen demokrasi. Cara pandang dan pola sikap ini menjadi penting agar seberapa tinggi pun temperatur politik, nuansa kebatinannya harus tetap berpedoman pada persatuan dan kesatuan.

Baca Juga :  MENGUNTIT SEBAGAI PERBUATAN PIDANA

“ Untuk itulah kepiawaian Polri dalam meracuk sebuah menu agar nuansa kebatinan dalam berdemokrasi masih dalam koridor kebangsaan menjadi sangat fundamental. Salah satu strateginya bisa dirumuskan dalam mendesain Cooling System agar temperatur politik tetap terjaga dalam suhu ruang kontestasi yang wajar. Ada banyak keterampilan yang harus terus dikuatkan dan ditingkatkan agar subjek dan objek pesta demokrasi bisa tetap beriringan meskipun berbeda pandangan “, imbuh Dede.

Selanjutnya Dede juga mengingatkan akan posisi strategis Indonesia dalam medan percaturan politik internasional. Indonesia memiliki posisi strategis secara Geografis, Demografis, Sumber Daya, dan Perannya dalam percaturan Politik Global, baik di ASEAN, negara –negara Non Blok, negara – negara Islam, G20, China dan Rusia. Dengan demikian akan timbul kompetisi kepentingan banyak negara sesuai dengan dimensi pandang kepentingannya masing – masing. Rasanya terlalu naif jika kita menilai mereka hanya akan duduk dan diam dalam menonton pesta demokrasi 2024. Mereka tentu akan menjadi pemain bayangan dengan segala atribut dan instrumennya. Baik dalam operasi – operasi intelijen, kontra intelijen, sabotase, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan salah satu PR besar kepolisian dalam mengidentifikasi variable yang dapat menaikan tensi politik dan potensi gangguan keamanan agar mampu merancang strategi yang tepat untuk mendinginkannya (cooling system).

Apalagi saat kita berada di era VUCA, dimana keadaan begitu labil naik turun atau Volatile, tidak ada kepastian atau Uncertain, sangat rumit atau Complex, dan membingungkan atau Umbigue. Tentu bukan hal yang mudah bagi Polri dalam membuat perencanaan operasi keamanannya. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa bertemu dengan keadaan “sudden death” atau jalan buntu yang betul-betul mentok, misalnya secara tiba – tiba muncul pandemi covid19 yang membuat kondisi publik serba panik. Disinilah muncul teori BANI yang disampaikan oleh Jamais Cascio (2020) seorang antropolog Amerika. BANI merupakan singkatan dari Brittle alias kondisi yang raouh atau mudah pecah, Anxiety adalah keadaan yang mengkhawatirkan, N adalah Non-linear atau tidak lurus, dan I adalah Incomprehensible atau sulit dipahami. Disinilah nalar, memori, imaginasi, intuisi, dan persepsi menjadi penting untuk digarisbawahi dalam penguatan kualitas SDM-nya.

Baca Juga :  Menyambut Puasa Tarwiyah dan Arafah 2024: Persiapan Umat Islam untuk Ibadah yang Penuh Berkah

Kemudian Dede juga menguraikan terkait Program dan Kompetensi yang harus dimiliki. Program – program yang dibuat pada dasarnya harus mampu merespon kebutuhan objektif yang aktual dan faktual sesuai kondisi wilayah hukum masing – masing. Ada variabel yang mungkin sama, dan ada juga variabel yang boleh jadi berbeda. Namun semua akan bermuara pada upaya – upaya peningkatan KOHESI SOSIAL sesuai TUPOKSI ORGANISASI / SATKER masing – masing. Selanjutnya jangan lupa dengan pemenuhan KOMPETENSI SDM sesuai dengan dinamika dan perubahan zaman. Sebut saja Peningkatan Keterampilan Komunikasi Deskriptif dan Komunikasi Persuasif, Peningkatan Keterampilan Tata Kelola Informasi dan Manajemen Media, Peningkatan Keterampilan Intelligence Multi Media (IMM), Ketajaman Analisis Intelijen, Desain Perencanaan dan Pengendalian Operasi Keamanan, Kepemimpinan Kontemporer : Visioner & Futuristik, dan lain – lain.

“ Peran Polri dalam menjaga kondusifitas Kamtibmas melalui strategi peningkatan kohesi sosial menjadi sangat penting guna meningkatkan toleransi politik sesama anak bangsa. Dimana kedewasaan berpolitik akan tercermin dari sikap toleran dalam memandang perbedaan pilihan politik sebagai realitas dan konsekuensi logis dalam sistem demokrasi, tetapi tentu perlu terus diingatkan dan dijaga agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan. Oleh karenanya dalam menghadapi dinamika tantangan tugas tersebut, kemampuan IQ harus dirubah dengan konsep inteligensi ganda (multiple intelligence), kolaborasi, empati, dan toleransi. Dalam hal kompetensi, perlu juga diasah kemampuan transdisiplin dengan melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Disinilah perlunya memiliki jaringan yang luas dan cakrawala berfikir yang komprehensif “, pungkas Dede.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *