Prawita GENPPARI, Wisata Model Work-Life Balance

Berita Umum149 Dilihat

Jakarta, Bhayangkaraglobalnews.com – Jika kehidupan kita hanya mengurus pekerjaan saja, rasanya ada yang keliru dengan langkah hidup kita sebab pekerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya. Sebagai manusia yang normal, kita juga butuh hiburan dengan segala bentuk dan jenisnya sesuai dengan hobi atau kesukaannya masing – masing. Mungkin ada yang suka liburan ke pantai, gunung, danau, atau destinasi wisata lainnya. Inilah pentingnya memiliki keseimbangan kerja dalam kehidupan atau biasa disebut Work-life balance. Work-life balance menjadi benefit yang dicari-cari oleh pekerja saat ini. Itulah sebabnya banyak pekerja mengalami burnout akibat lelah bekerja “, ungkap Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung, Selasa (17/5).

Hal tersebut ia sampaikan ketika tim redaksi menemui di kediamannya, jalan Mega Asri Bandung. Keramahannya dalam menyambut setiap tamu yang berkunjung selalu tergambar dari kesederhanaan dan kesantunannya selama ini. Hal tersebut merupakan tuntutan sikap dari ajaran agama untuk selalu memuliakan tamu. Ujarnya.

Kemudian Dede juga menjelaskan tentang konsep dasar dari Work-life balance yaitu suatu keadaan dimana seseorang dapat mengatur dan membagi waktu serta energi untuk kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan baik dan seimbang. Termasuk ketersediaan waktu untuk liburan/ wisata, dan aktivitas rekreatif lainnya. Jangan sampai usia hidup habis di kantor dan jalan, padahal tubuh juga memiliki hak untuk istirahat dan rileks. Apalagi kalau hari libur masih disibukkan dengan urusan lembur atau overtime. Akhirnya duit gak ngumpul, yang di dapat Cuma capek lahir dan bathin. Sambungnya.

Menurutnya, work-life balance itu dinilai penting karena dapat mengurangi stres dan burnout. Sebagaimana diketahui bahwa stress menjadi masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh pekerja. Jika dibiarkan, akan mengalami burnout atau kelelahan terus-menerus yang tentu akan berdampak pada menurunnya produktivitas kerja. Dengan menjaga work-life balance, maka tingkat stress bisa berkurang sehingga para pekerja bisa mempertahankan tingkat produktivitasnya secara optimal.

Baca Juga :  Polisi Musnahkan Ribuan Miras Berbagai Merek Hasil KRYD dan Operasi Pekat

Di samping itu tentu saja, kesehatan fisik dan stamina juga akan senantiasa terjaga. Jika kesehatan pekerja terganggu, maka perusahaan akan kehilangan productive working hours-nya ditambahkan lagi biaya pengobatan atas karyawan yang sakit tersebut. Kemudian juga akan terkait dengan hubungan sosial antara yang satu dengan yang lainnya akan terganggu karena berkurangnya waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang disayangi, misalnya quality time bersama keluarga, saudara, kekasih, atau teman-teman. Menurut Psychology Today, bersosialisasi bisa membuat hati lebih bahagia dan meningkatkan hubungan sosial menjadi lebih baik.

Oleh karena itu setiap orang sebaiknya bisa mengatur waktu dengan lebih baik agar memiliki keseimbangan waktu untuk bekerja dan waktu untuk rileks sesuai dengan kesukaan masing – masing. Kemampuan mengatur waktu ini nampaknya seperti mudah, padahal faktanya tidak sedikit orang yang mengalami kesulitan bahkan merasa tidak bisa mengatur waktu. Akhirnya terjebak pada rutinitas kesibukan yang tak berujung. Dalam konteks ini, maka disarankan agar setiap pekerja berusaha untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah. Pekerjaan kantor harus diselesaikan secara optimal di kantor dan menggunakan waktu kerja dengan sebaiknya mungkin untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab pekerjaan. Sementara di rumah jadikanlah tempat untuk rileks menikmati kehidupan keluarga dengan penuh kebahagiaan.

“ Dengan bahasa lain, maka pekerja dianjurkan agar jangan telat piknik. Berikan hak tubuh dan hak jiwa untuk menikmati hidup yang berkualitas. Jika bukan kita sendiri yang membahagiakan diri, lalu siapa lagi yang akan memikirkannya. Jika kita sendiri yang tidak mengatur untuk meluangkan waktu, maka tidak ada orang lain yang secara khusus akan meluangkan waktu untuk kita. Nikmati hidup untuk ibadah dan liburan, misalnya dengan wisata ke desa – desa. Apalagi saat ini semakin banyak bermunculan desa wisata – desa wisata. Itulah sebabnya disamping banyak membidani kelahiran desa wisata – desa wisata di tanah air, PRAWITA GENPPARI pun sangat aktif mensosialisasikan apa yang disebut Work-Life Balance “, pungkas Dede.

Baca Juga :  Apresiasi Polri Rekrut Difabel, Ombudsman Harap Ada Efek Bola Salju

(Vonny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *