Jalan Berliku Tahyudin Mendirikan MI dan Ponpes Terpadu Cintaraja

Bhayangkaraglobalnews.com – Niat baik tak selalu berjalan mulus. Ada banyak tantangan dan aral melintang yang mesti dilalui. Jika tidak kuat tekad, dihempas angin kecil pun bisa saja tumbang di tengah jalan.

Hal itu pernah dialami Tahyudin AAg, saat mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Terpadu Cintaraja, di Jalan Perum Cintaraja Asri Regency, Desa Cintaraja, Singaparna, pada 2010. Ia menceritakan, niatnya mendirikan sekolah untuk menampung anak-anak yang kurang beruntung secara materi, juga memberdayakan lulusan guru agama yang kesulitan mencari lahan untuk mengajar.

“Tapi membangun kepercayaan itu ternyata tidak mudah, sebab tidak jauh dari sekolah kami sudah ada sekolah yang sudah punya Icon melekat di hati masyarakat, berdirinya telah puluhan tahun lalu.

Ujian tahun pertama, siswanya hanya 12 orang, padahal di sekolah ini awalnya semua digratiskan,” tuturnya.

Di tahun kedua, lanjutnya, hanya ada dua orang yang mendaftar. Ia mengaku mulai putus asa dan berniat membubarkan sekolah. Sepi peminat sangat beralasan. Selain belum mendapat kepercayaan bahwa sekolah ini akan berlanjut, kelasnya juga masih menumpang di madrasah. Belajar harus bergantian dengan sekolah madrasah yang diselenggarakan siang harinya.

“Pupus sudah harapan saya mendirikan sekolah murah bahkan gratis yang berkualitas, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Saya pernah berpikir, mungkin lebih baik mendirikan sekolah mahal yang peminatnya banyak, ketimbang murah atau sekalipun di gratiskan malah tidak ada peminatnya,” ujarnya.

Pikiran itu langsung ditepisnya. Ia mendirikan sekolah yang berada di bawah Yayasan Riyadlu As-Shalihin itu bukan dijadikan lahan bisnis. Semata ingin memberi kesempatan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Tapi, hal itu tidak semulus yang dibayangkannya.

Di saat jumlah pendaftar hanya dua orang pada tahun kedua, ekonomi keluarganya ambruk. “Saya seperti terjebak. Tidak bisa keluar dari lorong yang gelap, yang pengap yaitu lorong keinginan mendirikan sekolah murah yang berkualitas. Saat anak-anak ditanya mereka masih tetap mau sekolah, semangat dan energi saya bertambah. Saya tidak lagi berpikir soal utang, soal rumah saya yang akan disita, soal mobil yang habis dirampas dept colektor. Saya harus fokus pada niat membantu anak-anak,” tandasnya.

Bersama istrinya, Wiwin Nurkamelia, S.Ag, ia bertekad bangkit dari dari keterpurukan. Ia lantas membangun ruang kelas belajar agar tidak menumpang di madrasah. Uangnya didapat dari pinjam dari mertua dan Bank.

Akhirnya, pada 2014, MI Terpadu Cintaraja punya bangunan sendiri. Setiap kali ada rezeki, ia semakin bersemangat untuk terus mambangun sekolah. Sampai sekarang pembangunan belum terhenti.

“Kami sudah punya delapan kelas yang kokoh dan cukup megah untuk sekolah di lingkungan Kemenag. Tiga lokal dipakai untuk kegiatan Kober dan TK. Sekolah MI Terpadu Cintaraja kini sudah memiliki gedung yang aman dan nyaman serta dikelilingi benteng yang kokoh, ruang perpustakaan, ruang lab, dan ruang kelas yang berfungsi sebagai tempat salat berjamaah dan duha,” paparnya.

Menurutnya, selain fasilitas yang memadai, untuk siswa MI, kini sudah memiliki Ruang baru yang difungsikan untuk tempat tinggal santri yang jauh dari luar kota.

Kini sudah berdiri Pondok Pesantren Putra dan Putri yang bernama Ponpes Terpadu Cintaraja atau sering disingkat Ponpes Tercinta.

Setiap siswa yang tinggal di pesantren memiliki raport kepesantrenan dan siswa yang hanya sekolah di MI Terpadu Cintaraja punya rapor sesuai dengan Raport Umum Kementrian Agama dan catatan keagamaan yang bernama rakaat rapor kegiatan anak-anak takwa. Isinya tetang kegiatan salat berjamaah dan hafalan Alquran surat-surat tertentu. Kegiatan itu dipantau setiap hari oleh wali kelas dan orangtua. Bagi yang nilainya terbaik, setiap bulan akan diberi penghargaan oleh wali kelas masing masing.

“Walaupun biaya nya sangatlah murah, kami tidak miskin prestasi. Pernah meraih juara nasional satu Garuda Siaga Berprestasi, Gurunya Juara Satu Nasional Sayembara Resensi Kitab Kuning Kajian Ilmu Fikih dengan Judul : Diktum- Diktum Smart Abu Suja Dalam Yurespudensi Islam Klasik, Juara Satu Pesantren Terbersih Se- Jawa Barat dan juara lainnya,” ujarnya,seraya menyebutkan, sekarang jumah siswa MI ada 130 orang. Sedangkan untuk menutupi operasional sekolah dan pesantren masih subsidi dari hasil usahanya. [thy]