Bhayangkaraglobalnews.com – CIREBON | telah dilaksanakan kegiatan pertemuan dan silaturahmi dengan para mantan narapidana terorisme (Napiter) yang terafiliasi dengan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai demokrasi, menjaga kondusifitas masyarakat, serta menanamkan prinsip toleransi beragama dan ideologi Pancasila demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman paham radikalisme. (Minggu,16 Februari 2025)
Acara yang digelar di Jiwan Coffee, Jalan R. Dewi Sartika No.58, Kenanga, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ini dihadiri oleh sejumlah aparat kepolisian dan mantan Napiter. Beberapa tokoh penting yang turut hadir antara lain:
- KOMPOL SATORI – Kanit Idensos 88 AT Polri.
- AKP EKO ARI CAHYANO, S.H., M.H. – Kanit 1 Subdit IV Kamneg.
- AKP IWAN – Kanit IV Sat Intelkam Polresta Cirebon.
- IPTU INDRA SETYA GUNAWAN, S.IP. – Anggota Unit 1 Subdit Kamneg.
- Muhammad Riza Arifin , Sahrodi , Fakhri Rizqi Rafsanjani , dan Rahman Surahman – para mantan Napiter yang menjadi peserta kegiatan.
Dalam kesempatan tersebut, AKP Eko Ari Cahyano, S.H., M.H., selaku Kanit 1 Subdit Kamneg, menyampaikan pesan-pesan penting terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ia mengajak para mantan Napiter untuk tetap menjaga persatuan dan keutuhan NKRI dengan mengedepankan nilai-nilai demokrasi dan Pancasila. Selain itu, ia menekankan pentingnya upaya pencegahan penyebaran kembali paham radikalisme serta mengajak para peserta untuk aktif memberikan pemahaman kepada mantan Napiter lainnya agar tidak kembali terjerumus ke dalam ideologi ekstremisme.
Salah satu peserta yang hadir, Rahman Surahman, sebelumnya dikenal sebagai panitia sekaligus agen hijrah yang membantu pengiriman ikhwan dari Indonesia ke basis Daulah Islamiyah Asia Tenggara di Filipina. Kehadirannya dalam kegiatan ini menjadi momentum penting untuk merangkul kembali para mantan Napiter ke dalam kehidupan sosial yang lebih damai dan harmonis.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam membangun komunikasi yang lebih baik antara aparat keamanan dan mantan Napiter. Melalui dialog dan pendekatan persuasif, diharapkan situasi di tengah masyarakat dapat semakin aman, kondusif, serta bebas dari ancaman paham radikalisme.







